Tempat Jamaah Umroh Dan Haji Mengambil Miqat, Masjid Bir Ali


Tempat Jamaah Umroh Dan Haji Mengambil Miqat, Masjid Bir Ali

Masjid Bir Ali adalah Tempat Jamaah Umroh Dan Haji Mengambil Miqat Di perbatasan Tanah Haram, tepatnya 11 kilometer dari Masjid Nabawi, Madinah, ada tempat cantik bernama Masjid Bir Ali. Di sinilah Miqat Makani (tempat berniat umrah/haji) bagi calon jamaah haji Indonesia yang berangkat dari Madinah menuju Masjidil Haram, Makkah.

Masjid Bir Ali ini adalah tempat Rasullullah SAW mengambil miqat dan memakai ihram sebelum melaksanakan ibadah umroh.

 

Miqat dalam bahasa Arab berarti batas- batas yang sudah ditetapkan bagi dimulainya ibadah haji atau umroh. Dahulu disebut dengan nama Dzulhulaifah. Hingga saat ini, jemaah umroh maupun haji dari seluruh penjuru dunia yang memulai perjalanan dari Madinah selalu mengambil miqat dan salat sunah dua rakaat di Masjid Bir Ali ini. Seperti yang pernah dilakukan oleh Rasullulah SAW.

Jarak dari Masjid Bir Ali ke Kota Makkah sebenarnya masih cukup jauh. Perlu waktu 4 sampai 6 jam naik bus untuk tiba di Makkah karena jaraknya masih lebih kurang 450 km. Sebagaimana disyariatkan, ada 3 hal yang harus diamalkan saat mengambil miqat, termasuk miqat di Bir Ali ini, yaitu:

  1. Mandi sunnat ihram dan memakai pakaian ihram;
  2. shalat sunnat ihram 2 rakaat; dan
  3. Berniat ihram serta bertalbiyah.

 

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri pada masa Rosulullah terdapat sebuah pohon jenis akasia yang menjadi tempat Rosulullah berteduh saat miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tersebut kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Masjid yang sama kemudian direnovasi pada masa dinasti Abbasiyah dan direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada waktu itu masjid masih berbentuk sangat kecil dan terbuat dari batu, dan belum ada jemaah haji dan umrah yang singgah di masjid ini.

Perluasan dan peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yang memerintahkan renovasi dan perluasan masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini telah diperluas beberapa kali lipat, dan diberikannya fasilitas yang diperlukan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar dengan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dikelilingi koridor koridor panjang dengan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri mayoritas bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar dengan dua menara diatasnya.

Bangunan utama masjid berada di dalam “tembok benteng” tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yang teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat “inner courtyard” atau pelataran tengah dilengkapi dengan satu pancuran air di bawah bangunan kecil berkubah dikelilingi taman yang menghijau.

‘Bangunan seperti benteng’ yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, tempat wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, kantor petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral setinggi 62 meter, lokasinya berada di bagian dalam tembok benteng. Masuk ke dalam masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran besar yang masing masing terhubung dengan lengkungan sebagai penyangga struktur atap diatasnya.

Dominasi warna merah pada bagian atas lengkungan dan hamparan karpetnya memberikan kesan mewah di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yang cukup besar, dibagian bawahnya dibuat relung relung yang difungsikan sebagai rak tempat menyimpan kitab suci Al-Qur’an.

 

Asal Usul Penamaan Masjid Bir Ali

 

Dilansir dari detik Hikmah yang mengutip dari buku Haji Umroh Bukan Mimpi karya M.Anwar Sani, dkk., masjid tempat miqat ini diberi nama Bir Ali karena dahulu ada sumur (bir) yang dibuat oleh Ali bin Abi Thalib. Menurut kisahnya, Ali mendirikan sumur dengan jumlah yang banyak. Dengan demikian, sejumlah orang juga kerap menyebut masjid ini sebagai Abyar yang merupakan jamak dari kata 'bir'. Namun, saat ini sumur-sumur tersebut telah ditutupi oleh bangunan-bangunan di sekitar masjid dan bangunan masjid itu sendiri.

Keunikan Bangunan Masjid Bir Ali

 

Masjid Bil Ali merupakan salah satu masjid besar dengan denah berbentuk persegi menyerupai benteng pertahanan. Masjid ini berada di tengah yang dikelilingi dengan koridor panjang. Koridor panjang tersebut dengan arcade pada bagian sisi dalamnya yang berwarna kemerah-merahan. Sedangkan, tembok terluar bangunan berwarna cream. Sementara tembok yang menyerupai benteng panjang tadi merupakan arsitektur pendukung fasilitas masjid. Hal ini termasuk kamar mandi, ratusan toilet, klinik kesehatan tempat wudhu, kios pedagang loker penitipan barang kantor pengelolah dan fasilitas lainnya. Selain itu, saat memasuki masjid mulai dari area parkir, jamaah akan melalui gerbang tinggi dan besar dengan dua menara di atasnya. Saat masuk di bagian utama masjid, akan nampak taman-taman hijau yang teduh. Sementara itu, bagian tengah masjid terdapat pelataran tengah yang menyuduhkan satu pancuran air dibawah bagunan berkubah kecil. Bangunan dikelilingi tanaman hijau.

 

source : detik.com


  • Admin
  • 19-09-2023

WhatsApp chat

Tripo is a premium wordpress theme for travel, tours, trips, adventures and a wide range of other tour agencies.

needhelp@tripo.com
888 999 0000